Login Member
Username:
Password :
Agenda
23 November 2014
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6

A.    Sejarah Perkembangan SMA Negeri 47 Jakarta

SMA Negeri 47 Jakarta sebagai lembaga pendidikan menegah atas, lahir untuk memenuhi tuntutan obyektif, baik untuk menyerap tenaga guru professional maupun membantu pemerintah dalam menanggulangi masalah tuntutan atas perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada jenjang pendidikan menengah atas.

Masa Pra Pembentukan SMA Negeri 47 Jakarta

a.   Periode (1978-1989)

Pada tanggal 2 Januari 1978, diresmikan sebuah SMA Negeri cabang (kelas jauh) dari  SMA Negeri 29 Jakarta dengan nama SMA Negeri 29 Filial Jakarta, yang beralamat di Jalan Delman Utama I Kebayoran Lama Jakarta Selatan, yang sebelumnya menumpang di SMPN 66 Filial di Komplek Kostrad Tanah Kusir. Gedung SMA Negeri 29 Filial mulai dibangun tahun 1977 dan selesai tahun 1978, dengan keadaan ruangan sbb :

1)    Ruang Belajar  7 kelas

2)    Ruang Kepala Sekolah 1 ruang

3)    Ruang Tata Usaha 1 ruang

4)    Ruang WC 1 ruang

Kepala Sekolah  sekaligus  Pendiri :  Hj. Jajoek M. Assaat, BA (Almh)

Ketua BP3                                 :  H. Asep Syarifuddin

Wakil Ketua                              :  Let. Kol. Inf. Syarwono G.

b.   Peresmian SMA Negeri 47 Jakarta

Tanggal 27 Februari tahun 1982, SMA Negeri 29 Filial berubah status menjadi SMA Negeri 47 Jakarta. Setelah resmi menjadi sekolah negeri yang mandiri, SMA Negeri 47 Jakarta mulai mengembangkan sarana belajar dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. Pada tanggal 6 Oktober 1989 mulai dibangun  gedung perpustakaan berlantai 2 secara swadaya berkat kerjasama antara pihak sekolah dan POMG (Persatuan Orangtua Murid dan Guru), layaknya Komite sekarang.

Masa Pembangunan dan Pergantian Kepala Sekolah

a.   Periode (1989-1993)

Pada tanggal 22 Agustus 1989 terjadi  pergantian Kepala Sekolah, dari Hj. Jajoek M. Asaat BA kepada Drs. H. Mohammad Zaid yang sebelumnya beliau menjabat Kepala SMA Negeri 82 Jakarta Selatan. Sementara Hj. Jajoek M. Asaat BA  berpindah tugas menjadi Kepala SMA Negeri 6 Jakarta Selatan.

Di era kepemimpinan Drs. H. Mohammad Zaid mutu dan prestasi  SMA Negeri 47 Jakarta semakin membaik, sehingga kepercayaan masyarakat semakin meningkat. Namun demikian sarana dan prasarana (gedung) sekolah semakin memprihatinkan. Di bawah  pimpinan Drs. H. Mohammad Zaid SMA Negeri 47 Jakarta mulai mencari peluang untuk memperoleh bantuan perbaikan gedung kepada pemerintah.

 b.   Periode (1993-1998)

Pada tahun 1993, terjadi pergantian kepala sekolah dari Drs. H. Mohammad Zaid kepada Drs. RM. Pasaribu yang sebelumnya menjabat Kepala SMA Negeri 44 Jakarta Timur. Sementara  Drs. H. Mohammad Zaid pindah tugas menjadi Kepala SMA Negeri 37 Jakarta Selatan.

Pembangunan Gedung tahap I ;

Pada masa kepemimpinan Drs. RM. Pasaribu, bantuan pemerintah untuk pembangunan gedung baru memperoleh titik terang, yakni dengan dibangunnya gedung baru tahap ke-1 pada tahun 1997 dan selesai tahun 1998, menghasilkan :

1)    Ruang Belajar 9 ruang

2)    Ruang Laboratorium IPA 1 ruang

3)    Ruang Kepala Sekolah 1 ruang

4)    Ruang Perpustakaan 1 ruang

5)    Ruang Guru 1 ruang.

Dengan selesai dibangunnya 9 ruang belajar, maka gedung baru hanya dapat ditempati oleh 9 rombongan belajar (kelas III) saja, sementara  kelas I dan II saat itu yang berjumlah 18 kelas, masih menumpang belajar di gedung SD yang ada di sekitar SMA Negeri 47 Jakarta.

c.    Periode (1998-2002)

Pada bulan Mei tahun 1998, saat terjadinya kerusuhan Jakarta, Drs. H. SH. Hatta yang sebelumnya menjabat Kepala SMA Negeri 33 Jakarta Barat, menjadi Kepala  SMA Negeri 47 Jakarta menggantikan Drs. S.H. Hatta menggantikan Drs. R.M. Pasaribu yang memasuki masa purnabakti.  Dimasa kepemimpinan Drs. H. SH. Hatta, SMA Negeri 47 Jakarta masih berjuang menyelesaikan pembangunan tahap II (yang mulai dilaksanakan pada pertengahan Nopember 1998).

Pembangunan Gedung tahap II ;

Tanggal 22 Maret 1999 pembangunan tahap II selesai dilaksanakan yang menghasilkan :

1)    ruang belajar 6 ruang

2)    3 ruang tambahan yang dipergunkan untuk ruang OSIS, Ruang BK dan ruang menyimpan ATK.

Sehingga siswa kelas I dan II dapat menempati gedung baru, tetapi waktu belajarnya siang hari (waktu belajar menjadi dua shift) karena pagi hanya cukup menampung kelas III dan sebagian kelas II.

d.   Periode (2002 -2004)

Tahun 2002 SMA Negeri 47 Jakarta dipimpin oleh Drs. Djayadi yang sebelumnya menjabat Kepala SMA Negeri 113 Jakarta Timur, menggantikan Drs. H. SH. Hatta yang memasuki masa purnabakti. 

Berkat prestasi yang diperoleh baik secara akademik maupun non akademik, SMA Negeri 47 Jakarta berubah status dari Sekolah Reguler menjadi Sekolah Plus Pendamping Unggulan Kotamadya yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Dikmenti Propinsi DKI Jakarta Nomor 17/2003, tanggal 2 Juli 2003.

e.   Periode (2004-2008) 

Pada Tahun 2004 kepala SMA Negeri 47 Jakarta, Drs. Djayadi mendapat tugas menjadi Pengawas, sehingga kepemimpinan SMA Negeri 47 jakarta dipegang oleh Drs. H. Laily Saher  yang sebelumnya bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 93 Jakarta Timur.

Pembangunan Tahap III ;

Pada tahun 2005 SMA 47 Jakarta mendapat bantuan penambahan ruangan belajar sebanyak 9 ruang dan selesai dibangun tanggal 5 Desember 2005.

Mulai tahun 2006 SMA Negeri 47 Jakarta seluruh kelas, waktu belajarnya pagi semua (satu shift) dan status sekolah menjadi SMA Plus Unggulan Tingkat Kotamadya yang kemudian pada tahun 2007 menjadi sekolah unggulan tingkat provinsi DKI Jakarta. Pada masa jabatannya pula SMA Negeri 47 Jakarta memperoleh dana bantuan Block Grant pertama untuk Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (RSKM).

f.    Periode (2008- 2011

Pada bulan Januari tahun 2008, kepala  SMA Negeri 47 Jakarta dijabat oleh Drs. H. Asyikin, menggantikan Drs. H. Laily Saher yang berpindah tugas menjadi Kepala SMA Negeri 36 Jakarta Timur.

Drs. H. Asyikin, sebelumnya menjabat Kepala SMA Negeri 94 Jakarta Barat, SMA Negeri 33 Jakarta Barat dan SMA Negeri 70 Jakarta Selatan. Uniknya, Drs. H. Asyikin adalah mantan guru SMA Negeri 47 Jakarta, yang mulai bertugas menjadi guru di SMAN 47 Jakarta pada tahun 1979 sampai dengan diangkat jadi Kepala SMAN 94 pada tahun 2002.

Di awal tugasnya sebagai Kepala Sekolah di SMAN 47 Jakarta, Drs. H. Asyikin melakukan berbagai upaya pembinaan, antara lain :

1)   Kurikulum ;

a)    dilaksanakannya berbagai pembinaan terhadap pendidik dan tenaga kependidikan berupa briefing dan  pelatihan (workshop, IHT, penataran, seminar, dll) dalam rangka meningkatkan mutu kinerja dan profesionalisme, yang dititikberatkan kepada pemahaman tentang tupoksi dan peningkatan kompetensi, seperti pelatihan pengembangan silabus, pengembangan rpp, pengembangan bahan ajar (cetak/IT), metode/strategi pembelajaran, dll,

b)    dikembangkannya sarana dan media pembelajaran berbasis literatur (kepustakaan) dan berbasis IT (tersedianya akses internet/hotspot di setiap ruang belajar),

c)    sistem administrasi penilaian menggunakan SAS Buffer yang selalu ter update di web site sekolah yang dapat diakses langsung baik intranet maupun internet oleh seluruh warga sekolah,

d)    ditetapkannya KKM yang tinggi dan terukur sebagai benchmarking penentuan keberhasilan akademik,

e)    ditetapkannya kurikulum sekolah (KTSP) yang mengacu pada kurikulum SKM (Sekolah Kategori Mandiri), Sekolah Model dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI),

f)     dilaksanakannya klinik akademik, kegiatan remedial dan pengayaan yang terjadwal, pendalaman materi bekerjasama dengan fihak luar yang profesional, pembinaan akademik (pembinaan PMDK, pembinaan UMPTN,dll.) sebagai bentuk pemenuhan layanan akademik yang optimal,

g)    dilaksanakannya pengawasan, supervisi dan evaluasi secara intensif terhadap pelaksanaan KBM,

h)    dilaksanakannya penertiban kehadiran (absen) siswa, guru maupun karyawan sekolah secara intensif dan berkesinambungan,

i)     diterapkannya peraturan akademik sekolah.

2)   Kesiswaan ;

a)    dilaksakan penertiban dan penegakkan disiplin secara kontinyu dalam rangka menegakkan tatatertib dan kode etik sekolah,

b)    dicanangkannya bahwa mencontek merupakan “academic crime”. Diintensifkannya pembinaan OSIS/Ekskul dan pembinaan OSN.

3)   Sarana dan prasarana ;

a)    dilakukan renovasi besar-besaran terhadap Perpustakaan sebagai sumber ilmu, informasi dan pembelajaran,

b)    penambahan ruang dan sarana laboratorium Bahasa,

c)    pemasangan dan penggunaan LCD pada setiap ruang kelas (KBM)

d)    diciptakan lingkungan yang kondusif (sehat, bersih, nyaman, aman, rindang, hijau / terciptanya 7 K)

4)   Humas ;

Humas sebagai sumber informasi dan komunikasi serta pelayanan sekolah terhadap masyarakat, humas SMA Negeri 47 Jakarta dilengkapi dengan sarana IT, sehingga kondisi sekolah dapat di update oleh seluruh warga sekolah dan masyarakat setiap saat.

5)   Ketatausahaan ;

Administrasi sekolah terdokumentasi dan tertata secara rapi, tertib dan teratur secara baik, dan diarsipkan dalam bentuk berkas (hardcopy) maupun dalam bentuk IT (softcopy).

6)   Umum

Untuk mengembangan sekolah, beliau melakukan berbagai upaya, al :

a)    diperolehnya dana bantuan block grant yang ke-2 dan ke-3 untuk RSKM,

b)    block grant untuk pengembangan Perpustakaan,

c)    penambahan ruang dan sarana untuk Laboratorium Bahasa, 

d)    diperolehnya dana block grant untuk SMA Model,

e)    diusulkannya SMA Negeri 47 Jakarta menjadai RSBI,

f)     dicanangkannya SMAN 47 menjadi sekolah unggulan Nasional,

g)    serta diberikannya dana stimulus bagi guru yang melanjutkan pendidikan ke pasca sarjana.

 

 g.    Periode (2011- sekarang

Mulai tanggal 10 Mei tahun 2011, kepala  SMA Negeri 47 Jakarta dijabat oleh Drs. Syafruddin Yusuf, M.Pd, menggantikan Drs. H. Asyikin yang memasuki masa purnabhakti (pensiun).

Drs. Syafruddin Yusuf, M.Pd, sebelumnya menjabat Kepala SMA Negeri 115 Jakarta Utara, lalu SMA Negeri 52 Jakarta Utara dan kemudian SMA Negeri 47 Jakarta Selatan.